
Di masa sulit, sebutan pemimpin dapat menjelma menjadi motivator, coach, nabi, dai, guru, jenderal atau panglima. Berbeda dengan sebutan formal yang didapat melalui SK pemangku jabatan : presiden, gubernur, bupati, dirjen, manajer, kasie, dan sebagainya. Dalam situasi yang sulit, pemimpin bukan sekedar pemangku jabatan, melainkan seseorang yang menimbulkan gerakan dengan kekuatan pengaruhnya.
Krisis menandakan saatnya dibutuhkan “pemimpin”. Tetapi “pemimpin” juga perlu didukung oleh “kepemimpinan”, bukan hanya pemangku jabatan.
Seseorang kita sebut pemimpin apabila pemikiran dan kata-katanya dapat menggerakkan orang-orang di dalam lingkaran pengaruhnya. Bawahan akan mengikuti pemimpin yang dapat membawa mereka menuju keadaan yang lebih baik. Bagaimana bawahan bergerak menggambarkan kualitas dan tingkatan kepemimpinan dari pemimpin nya.
John C. Maxwell mengibaratkan kepemimpinan sebagai langkah naik tangga, dari level satu ke level lainnya yang lebih tinggi. Berdasarkan kemampuan menciptakan pengaruh dan loyalitas, pemimpin dikategorikannya menjadi beberapa tingkatan, sebagai berikut :
Level 1 : Posisi
“They follow you because they have to”
Seseorang yang menjadi pemimpin level 1 mendapatkan jabatan karena diangkat, katakanlah dengan SK. Pemimpin level 1 ini sebenarnya bukan pemimpin, namun hanya menjaga sistem yang sudah ada agar berjalan sebagaimana mestinya. Namun demikian, posisi level 1 dapat dianggap sebagai “pintu” untuk memberi perintah dan memimpin.
Dengan memegang posisi, praktis tidak ada orang lain yang bisa menggangunya. Bawahan ikut karena suatu keharusan. Tanpa tanda tangan atasan, bawahan tidak bisa melakukan apa-apa. Bawahan bekerja karena diharuskan dan diawasi.
Jika atasan kehilangan keyakinan, bawahan akan kehilangan komitmen. When the leader lack of confident, the followers lack commitment.
Level 2 : Hubungan
“They follow you because they want to.”
Seorang pemimpin yang disegani adalah pemimpin yang bekerja sepenuh hati dan mencintai pekerjaannya. Dia sadar betul bahwa prestasi hanya bisa dicapai dengan memimpin orang. Oleh karena ini, dia tidak hanya memimpin pekerjaan melainkan memimpin orang.
“Fondasi” semua itu adalah cinta dan kasih sayang, atau cinta kasih tanpa memandang persamaan dan perbedaan yang ada antara dia dan bawahannya. Kepedulian kepada bawahan menciptakan hubungan yang lebih erat tidak hanya sebagai atasan-bawahan tetapi juga sebagai tim yang kuat.
They don’t care how much you know, until they know how much you care.
Level 3 : Orientasi Hasil
“They follow you because what you have done for the organization.”
Pemimpin lebih berioentasi pada hasil (result-based) ketimbang prosedur (procedural-based). Berbeda dengan pemimpin level 1 yang hanya sekedar kuncen atau penjaga pintu yang mementingkan prosedural, pemimpin level 3 mulai berpikir sebaliknya yaitu mematuhi prosedur tetapi hanya prosedur yang memberikan hasil besar bagi organisasi.
Demikian juga bagi bawahan dalam menilai pemimpinnya. Mereka tidak cukup dihargai karena jabatan dan kasih sayangnya saja, melainkan juga karena prestasi kerjanya. Apa yang mereka berikan pada organisasi atau perusahaan akan menentukan kekuatan mereka. Sebab prestasi kerja akan memberikan kesejahteraan dan kebanggaan. Itu sebabnya pemimpin ini sering “dikagumi” (admired).
To come together, to get together, to accomplish something.
Level 4 : Pengembangan Orang
“They follow you because of what you have done for them.”
Pada level 4, seseorang yang hebat dan peduli terhadap staf dan karyawannya, perlu memperhatikan pengembangan mutu dan karakter mereka. Pada level ini, pemimpin bukan hanya menjadikan bawahan sebagai pengikut, melainkan menjadi coach bagi mereka untuk menjadi pemimpin berikutnya.
Pada gilirannya, akan tercipta “loyalitas” dan bawahan patuh bukan karena jabatan atasan, melainkan atas apa yang telah pemimpin perbuat pada hidup mereka.
Level 5 : Personhood
“They follow you because of who you are and what you represent.”
Tingkatan tertinggi dari pemimpin adalah seseorang yang disegani dan mendapat “respek” atau penghargaan yang sangat tinggi dari semua orang. Jati diri mereka dibentuk oleh karakter yang kuat. Itulah spritual leader, yang namanya menjelma, dari nama biasa menjadi sebuah kekuatan pengaruh yang besar. Ia adalah sebuah brand dengan daya tarik yang besar.
Pada dasarnya semua orang bisa menjadi pemimpin, baik untuk diri sendiri, keluarga, dalam pekerjaan maupun kehidupan sosial, hanya saja tingkatannya yang berbeda. Pada level manakah kepemimpinan kita berada?
Sebagai penutup, saya kutipkan quote indah dari Mario Teguh Super Club, seebagai berikut :
“Bila kita mengambil tanggung jawab untuk melebihkan kepemimpinan hidup kita, agar menjadi sebab bagi kebaikan hidup orang lain; maka alam akan bersikap ramah, dan menjadikan kita seorang pemimpin di muka bumi ini.”
Dituliskan ulang dari sumber pengetahuan yang indah :
- Buku Re-code Your Change DNA oleh Rhenald Khasali
- Web Site Mario Teguh Super Club, www.MTSuperclub.com
Alow mas pa kbr neh..seru artikelnya mas, kapan2 tak posting di blog ku ya. ok mas gtu..sukses ya
tq
http://andrewiwanto.wordpress.com