“Logistik adalah bisnis masa depan”, demikian yang disampaikan Prof. Dr. Boediono, saat itu menjabat sebagai Menko Perekonomian RI, pada Temu Nasional VI Forum Anggota Muda Persatuan Insinyur Indonesia (FAM-PII) tahun 2007 yang lalu.
Hal ini dikarenakan logistik dan rantai pasok (supply chain) tidak bisa terlepas dari semua aktifitas ekonomi. Pergerakan barang diatur tata kelola nya dengan ilmu logistik dan rantai pasok, sejak bahan baku di tempat asal ke unit pengolahan atau pabrik manufaktur, sampai akhirnya ke pengguna akhir. Ambil contoh Televisi, bahan baku dibeli dari mana saja termasuk impor dari luar negeri untuk kemudian dirakit di pabrik dan selanjutnya dipasarkan ke konsumen yang membeli di toko atau supermarket. Setiap perpindahan barang adalah aktifitas ekonomi dimana akan melibatkan sumber daya orang, waktu, dan uang.

Kiri ke Kanan : Ir. M Adhi Caksono, Prof. Dr. Boediono, Dr. Ir. Heru Dewanto, Ir. Rinaldi Firmansyah, MBA
Banyak definisi mengenai logistik dan rantai pasok, namun sulit untuk menemukan definisi yang baku dikarenakan melibatkan banyak disiplin ilmu dan konsep ini dibangun berdasarkan praktek. Coba saja browsing di google, atau klik link berikut di Wikipedia dan Investorwords. Akan ada banyak definisi yang bisa ditemui.
Untuk memudahkan saat ini, bagaimana kalau kita ingat dulu bahwa ilmu rantai pasok dan logistik ini adalah ilmu mengantar barang, dari asal barang (point of origin) ke tujuan akhir (point of destination). Nanti kalau pemahaman kita sudah lebih baik, kita akan perbaiki definisi ini.
Dalam prakteknya, proses pengiriman barang ini selalu melibatkan pertukaran data dan informasi dengan melibatkan berbagai pihak vendor, instansi pemerintah, pengelola pelabuhan, dll. Kelihatannya mengirim barang itu sederhana, tetapi ternyata lumayan rumit. Berbagai pihak berupaya untuk mengintegrasian kegiatan berkaitan dengan rantai pasok, seperti pergudangan, transportasi, customs clearance, pembayaran, bahkan dengan bentuk 3PL (Third Party Logistics) maupun 4PL (Four Party Logistics). Integrasi SCM (supply chain management) dikatakan berhasil apabila dapat mereduksi inventory level, cashflow delay, product cycle times, cost of material aquisition, dan cost of logistics. (ESCAP 2007).
Logistik sebagai bagian dari rantai pasok, memainkan peranan penting dalam manajemen rantai pasok karena selain menjaga tingkat inventory tetap rendah, pada saat yang bersamaan juga menjaga ketersediaan stok barang. Misalnya di sisi industri manufaktur, logistik menjaga agar proses produksi tetap berjalan dengan pembelian material secukupnya. Jika diperlukan, bahan baku bisa tersedia dengan jumlah yang cukup. Inilah yang dikatakan Just In Time (JIT). Coba bayangkan kalau untuk menjaga keamanan produksi suatu industri harus membeli bahan baku dalam jumlah yang besar, selain butuh modal besar, gudang penyimpanan yang besar, industri tersebut menjadi tidak fleksibel terhadap permintaan pasar atau konsumen jika ada perubahan model.
JIT memberikan dampak yang besar dalam pola global manufacturing. Produksi dapat dilakukan dimana saja dengan dukungan bahan baku, bahan penolong, spare part dari belahan dunia manapun. Misalnya, untuk produksi komputer dilakukan di Indonesia tetapi motherboard-nya dari Taiwan, monitornya dari jepang, mouse-nya dari China, dll.
Persaingan untuk merubah suatu barang dari A menjadi B dan mengirimkannya kepada end user secara cepat, handal dan murah menjadi semakin ketat. Di sini lah peran Logistik dan Rantai Pasok menjadi semakin penting. Siapa yang menguasai rantai suplai akan berpeluang untuk kompetitif dan memenangkan persaingan.
Dalam rantai suplai dan logistik saat ini, kemampuan untuk mengalirkan barang tanpa hambatan menjadi sangat penting. Integrasi simpul-simpul logistik dan transportasi dalam suatu tatanan yang terkoneksi satu sama lain menjadi tren yang menarik untuk meningkatkan kemampuan logistik dalam skala nasional dan regional untuk menunjang kegiatan perekonomian.
Dalam Logistic Performance Index (LPI) 2007 yang dikeluarkan World Bank, Indonesia berada di peringkat 43. Negara Asean lainnya seperti Singapura di peringkat 1, Malaysia 27, dan Thailand 31, dan Vietnam 53. Ini menunjukkan bahwa kinerja sektor logistik di Indonesia masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi untuk dapat bersaing di tingkat regional maupun dunia. Padahal, persaingan merupakan salah satu kunci di era mendatang.